Sabtu, 13 April 2013

jangan nangis kawan

kawan…
hapuslah air matamu…
seakan kau tidak punya teman untuk berbagi keluh kesahmu…
dan kau hanya diam saja ketika ada yang bertanya…
kawan…
hapuslah air matamu…
jika tidak ada yang membantumu..
aku siap membantumu..
diminta atau tidak diminta…
kawan…
ayo senyum lagi…

menyonsong sesuatu yang baru

Wahai diri….
Aneh sekali kamu, semangatmu begitu tinggi untk melakukan perubahan diri ketika ramadhan datang, namun kenapa tidak ada aplikasinya?
Wahai diri…
Aneh sekali kamu, ghirahmu untk beribdah begitu tingginya dengan cepat, namun kenapa juga cepat mengalami penurunan?
Wahai diri..
Aneh sekali kamu, begitu mudahnya kamu menilai jelek orang lain, tapi kenapa susah sekali menilai dirimu sendiri?
Wahai diri..
Aneh sekali kamu,seakan akan tidak punya tempat berpijak yang jelas setelah berjalan sepanjang waktu.. Bukankah ‘petunjuk’ itu telah ada? Alquran wa sunnah
wahai diri, saatnya memperbaiki diri…

kisah celengan

Teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang guru. Beliau menceritakan sebuah kisah tentang celengan (yang akhir2 ini sedang “naik daun”).
Kisahnya begini….
Celengan yang senantiasa berjalan langkah demi langkah, sebagai wadah pembawa berkah bagi orang2 yang senantiasa mengisi nya dengan keikhlasan.
Yah, receh demi receh…..lembar demi lembar uang akan selalu menghujani nya. Tak jarang juga hingga penuh (pada saat2 tertentu).
Ketika receh dan lembar itu satu demi satu masuk, ada si receh 100, 500 dan ada juga si lembar seribu, limaribu, sepuluhribu, duapuluhribu, limapuluhribu dan seratusribu. Terjadilah percakapan antara mereka yang berada dalam celengan itu.
Percakapan dimulai oleh si lembar seribu, dia berkata “Wah, kita ketemu lagi ya” ucapnya pada si seribu lainnya. dan dijawab “iya, ketemu lagi ketemu lagi…udah bosan juga niy ketika masuk ke sini pasti ketemu kamu lagi, pengen ganti suasana n melihat wajah2 baru nan lebih fresh”. Si seribu lainnya menanggapi, “mungkin memang udah nasib kita kali ya akan berada di tempat ini, padahal rindu rasanya melihat warna2 lain yang masuk kesini, biar kita juga ga mono….hmm…kita hanya bisa berharap”.
Tak lama kemudian, masuk si lembar limaribu, ia pun merasa asing dengan tempat itu, untungnya dia melihat beberapa lembar limaribu lainnya di sela2 himpitan seribu lainnya. Betapa senangnya ia bertemu teman2nya, dan ia pun menghampiri teman2nya “alhamdulillah, aku menemukan kalian disini, tapi kenapa ya kita hanya sedikit bgt??? kenapa yang banyak hanyalah si seribu aja? lihatlah, klo dihitung2 kita cuma sepuluh aja” limaribu lainnya menanggapi, “Iya, aku berharap kita makin banyak disini, ga hanya sedikit disini, iri juga terkadang klo melihat seribu, mereka selalu kompak berada disini…hmmm…..”
Terlihat di salah satu pojok, ada lima lembaran sepuluhribu, mereka sepertinya sangat sedih. “Hmm….kenapa kita yang paling sedikit ya disini?” kata salah satunya. Hmm…apa mungkin teman2 kita yang lain tidak mau ya kesini? apa mereka alergi masuk kesini? Hmm…..ntahlah, mungkin aja kayak gt ya”. Lalu dijawablah oleh sepuluhribu lainnya, “kita seharusnya tetap bersyukur….karena kita masih di izinkan bisa masuk kesini, kita buktikan pada yang lainnya klo kita bukan alergi dengan tempat ini, kita senang berada disini sebenarnya, tapi ya mungkin agak berat mereka memasukkan kita kesini. Kita berdo’a saja ya, smoga teman2 kita juga akan segera menyusul masuk kesini…Amin”.
Hal ini terdengar oleh si lembar duapuluhribu, makin sedih mendengarnya karena mereka hanya ada tiga lembaran saja, lebih sedikit lagi dibanding sepuluhribu. Mereka juga hanya berdesah saja, kapan ya kita juga bisa rame disini????
Kemudian, di pojok lainnya juga ada lembaran limapuluhribu yang merasa asing dengan tempat ini. Kenapa kita berada di antara seribu yang banyak sekali ya….? tapi syukurlah kita masih ada berdua, lihatlah si lembar seratusribu itu. ia hanya sendiri, ga ada teman, dia kelihatan sangat sedih sekali. Ia merasa sangat asing sekali dengan tempat itu. Tempat apa ini?, pikirnya. Rasanya sebelum ini blum pernah kesini. Apakah aku tersesat??? Ya Allah, mana teman2 ku, kenapa aku hanya sendiri disini???”, ratapnya dengan sangat sedih.
Itulah sepenggal cerita tentang “kisah celengan” yang mungkin dapat kita jadikan sebagai hikmah

mahasiswa sebagai iron stock

Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.
Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam Al-Maidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap kaum kafir.
Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.
Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran Iron Stock tersebut ? Jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya.
Lalu kenapa harus Iron Stock ?? Bukan Golden Stock saja, kan lebih bagus dan mahal ?? Mungkin didasarkan atas sifat besi itu sendiri yang akan berkarat dalam jangka waktu lama, sehingga diperlukanlah penggantian dengan besi-besi baru yang lebih bagus dan kokoh. Hal itu sesuai dengan kodrat manusia yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran.

DIANTARA KEBUTUHAN, TANTANGAN, KEPEDULIAN, DAN KEHARUSAN

Seperti halnya dengan dunia pendidikan pada umumnya, dunia mahasiswa tidak lepas dari praktek belajar mengajar, tugas dan dinamika organisasi mahasiswa. Berbicara tentang mahasiswa tidak cukup hanya berkaitan dengan kuliah saja, sudah cukup bukti yang menunjukkan bagaimana eksistensi mahasiswa dalam melaksanakan perannya sebagai social control yang terorganisir dalam berbagai organisasi mahasiswa. Namun, tidak semua mahasiswa berkiprah di jalan ini (baca : organisasi mahasiswa), hanya sebagian kecil saja yang mengambil peran tersebut yang selanjutnya dikenal sebagai aktivis kampus.
Menjadi seorang aktivis kampus bukan berarti akan terbebas dari kewajiban sebagai mahasiswa pada umumnya, peran sebagai pelajar tetap harus dijalankan disamping menjalankan peran sebagai sebagai aktivis kampus, bukan berarti pula mengatas namakan kesibukan dan kekurang lihaian mengatur waktu dijadikan alasan turunnya prestasi akademik yang menjadi momok bagi sebagian aktivIs kampus dan calon aktivis kampus. Sehingga hanya segelintir mahasiswa saja yang berani mengambil peran di jalan ini.
Disinilah letak penilaian bagaimana seorang aktivis kampus dapat berperan ganda pada dunia yang sama tanpa harus mengorbankan salah satunya. Tidak ada aturan baku yang menghendaki seorang mahasiswa berperan ganda tersebut, keinginan ini kembali pada kebutuhan, kepedulian dan tantangan bagi mahasiswa tersebut, karena jika dlihat sepintas maka sebenarnya menjadi seorang aktivis kampus hanya akan menambah beban berat dipundak mahasiswa itu sendiri di samping beban utamanya sebagai seorang pelajar.
Jika dikhususkan sebagai seorang mahasiswa farmasi yang terkenal dengan kesibukannya baik diwaktu kuliah maupun diwaktu praktikum yang tidak bisa dipungkiri memiliki porsi yang berbeda dengan mahasiswa lainnya, tampaknya menambah beban kesibukan lain diluar kesibukan kuliah dalam hal ini adalah berorganisasi menjadi aktivis kampus hanyalah akan menambah beban mahasiswa farmasi itu sendiri apalagi jika yang dimasuki itu merupakan organisasi politik mahasiswa yang sama sekali tidak berhubungan dengan bidang farmasi.
Namun, pertanyaannya apakah seorang mahasiswa farmasi yang nantinya akan menjadi seorang farmasis akan cukup hanya memiliki bekal ilmu pengetahuan farmasi saja ketika berkiprah didunia kerja? Jika dipersempit, apakah seorang mahasiswa farmasi cukup menuntut ilmu farmasi saja, tanpa berorganisasi? Organisasi mengajarkan ilmu yang “berbeda” dari semua disiplin ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi, organisasi mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin dan yang dipimpin, mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang lain yang tampaknya berguna sekali ketika diaplikasikan di dunia kerja.
Seorang mahasiswa, dari bidang disiplin manapun ia, tetap memiliki peran yang sama, yaitu : Agent of change, Iron stock., dan agent of control.

MAHASISWA : AGENT OF CHANGE, SOCIAL CONTROL, AND IRON STOCK

Sebagai seorang pembelajar dan bagian masyarakat , maka mahasiswa memiliki peran yang komleks dan menyeluruh sehingga dikelompokkan dalam tiga fungsi : agent of change, social control and iron stock. Dengan fungsi tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bagaimana peran besar yang diemban mahasiswa untuk mewujudkan perubahan bangsa. Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negri lalu dengan gagahnya sang pahlawan mengusir penjahat-penjahat yang merajalela dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat.
Mahasiswa bukan hanya sekedar agen perubahan seperti pahlawan tersebut, mahasiswa sepantasnya menjadi agen pemberdayaan setelah peubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya kezaliman. Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat.
Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya. Namun, kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan, mahasiswa cenderung hanya mndalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan dan sedikit sekali diantaranya yang berkontak dengan masyarakat, walaupun ada sebagian mahasiswa yang mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui program-program pengabdian masyarakat.
Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubungan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa ynag acuh akan menyianyiakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmu pada masyarakat.
Lalu jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, menggantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock, tidak cukup mahasiswa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja. Perlu adanya soft skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi. Pertanyaannya, sebagai seorang mahasiswa, apakah kita sudah memiliki itu semua ??
Maka komplekslah perah mahasiswa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang ditopang dalam tiga peran : agent of change, social control, and iron stock. Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang ditunggu-tunggu bangsa ini..
Kitalah generasi itu..
Jaya mahasiswa….!!

Mahasiswa and masyarakat : Studi oriented and organisasi oriented

Sebagai seorang pembelajar dan bagian masyarakat , maka mahasiswa memiliki peran yang komleks dan menyeluruh sehingga dikelompokkan dalam tiga fungsi : agent of change, social control and iron stock. Dengan fungsi tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bagaimana peran besar yang diemban mahasiswa untuk mewujudkan perubahan bangsa. Ide dan pemikiran cerdas mereka mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan bergerak bersama dalam jumlah besar. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negri lalu dengan gagahnya sang pahlawan mengusir penjahat-penjahat yang merajalela dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat.
Mahasiswa bukan hanya sekedar agen perubahan seperti pahlawan tersebut, mahasiswa sepantasnya menjadi agen pemberdayaan setelah peubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya kezaliman. Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat.
Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya. Namun, kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan, mahasiswa cenderung hanya mendalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan dan sedikit sekali diantaranya yang berkontak dengan masyarakat, walaupun ada sebagian mahasiswa yang mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui program-program pengabdian masyarakat.
Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubungan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa ynag acuh akan menyianyiakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmu pada masyarakat.
Lalu jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, menggantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock, tidak cukup mahasiswa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja. Perlu adanya soft skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi. Pertanyaannya, sebagai seorang mahasiswa, apakah kita sudah memiliki itu semua ??
Sering sekali ada kesalahan persepsi sehingga cenderung antipati antara studi oriented dan organisasi oriented, keduanya saling berpijak pada landasan pemikiran masing serta pendukung idealismenya. Coba ditilik satu persatu, studi oriented bukan lah sebuah pilihan yang jelek namun sebuah pilihan sang bijak, analoginya seperti ini, jika semua mahasiswa tidak ada yang studi oriented atau Cuma bermain-main saja, maka tidak ada luaran perguruan tinggi yang ahli dibidangnya, tidak ada farmasis, tidak ada dokter, tidak ada arsitek, dan lainnya karena tidak ada yang studi oriented.
Studi oriented bukan mahasiswa yang hanya membaca buku dan hanya bermain di perpustakaan saja, namun mahasiswa studi oriented adalah mahasiswa yang memahami pelajarannya dari segi tekstual dan kontekstual, dalam artian mahasiswa yang mengaplikasikan ilmunya baik bagi diri mereka maupun pada masyarakat.
Lalu, bagaiman dengan mahasiswa organisasi oriented, adalah mahasiswa studi oriented yang ikut dalam organisasi dengan tujuan mendapat ilmu tambahan yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Jadi sangat salah pemahaman yang mengkotak-kotakkan antara mahasiswa studi oriented dengan mahasiswa organisasi oriented karena keduanya adalah sama dan keduanya adalah pilihan. Keduanya sama-sama baik dan bertujuan baik.
Masyarakat tidak mau pusing memikirkan apakah kita adalah mahasiswa studi oriented atau organisasi oriented, mereka hanya melihat kita adalah mahasiswa yang ahli di bidang masing-masing, dan mereka menunggu kiprah kita di tengah-tengah mereka.
Maka komplekslah perah mahasiswa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang ditopang dalam tiga peran : agent of change, social control, and iron stock. Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang ditunggu-tunggu bangsa ini..
Kitalah generasi itu..
Jaya mahasiswa….!!